MENGGUGAT PARADIGMA PETERNAKAN KONVENSIONAL DI PULAU TIMOR: URGENSI TRANSFORMASI MANAJEMEN DAN INOVASI SIRKULAR LIVESTOCK SEBAGAI MODEL PETERNAKAN BERKELANJUTAN DI LAHAN KERING

Avatar photo
Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260526 WA0159

 

Pengamatan di desa-desa pelosok Pulau Timor memperlihatkan bahwa sistem pemeliharaan ternak sangat rendah input, tanpa kandang layak dan tanpa budidaya pakan terencana. Sistem semi intensif yang diterapkan di beberapa lokasi masih menggantungkan pada penggembalaan alam sehingga suplai nutrisi tidak kontinu. Ketiadaan kandang menyebabkan ternak rentan terhadap cuaca ekstrem dan penyakit, serta menghalangi pengumpulan kotoran untuk pupuk. Fluktuasi pakan antara musim hujan dan kemarau tajam karena teknologi pengawetan tidak diterapkan. Dengan demikian, transformasi menyeluruh pada aspek perkandangan, pemberian pakan, dan pencatatan menjadi syarat mutlak peningkatan produktivitas.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT menyoroti pakan, ketersediaan air, dan infrastruktur kesehatan hewan sebagai tiga persoalan kritis. Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang pernah digagas belum berkelanjutan, sementara pabrik pakan ternak belum tersedia di wilayah Timor. Saat kemarau, ternak hanya mendapat nutrisi rendah dari rumput kering sehingga pertumbuhan terhambat. Upaya peternak seperti membuat sumur atau cekdam masih berskala kecil dan belum mampu mengatasi kekeringan secara fundamental. Melimpahnya biomassa musim hujan yang terbuang sia-sia menjadi paradoks yang harus diselesaikan melalui introduksi teknologi hay, silase, dan fermentasi pakan.