Pengamatan di desa-desa pelosok Pulau Timor memperlihatkan bahwa sistem pemeliharaan ternak sangat rendah input, tanpa kandang layak dan tanpa budidaya pakan terencana. Sistem semi intensif yang diterapkan di beberapa lokasi masih menggantungkan pada penggembalaan alam sehingga suplai nutrisi tidak kontinu. Ketiadaan kandang menyebabkan ternak rentan terhadap cuaca ekstrem dan penyakit, serta menghalangi pengumpulan kotoran untuk pupuk. Fluktuasi pakan antara musim hujan dan kemarau tajam karena teknologi pengawetan tidak diterapkan. Dengan demikian, transformasi menyeluruh pada aspek perkandangan, pemberian pakan, dan pencatatan menjadi syarat mutlak peningkatan produktivitas.
Wakil Ketua Komisi II DPRD NTT menyoroti pakan, ketersediaan air, dan infrastruktur kesehatan hewan sebagai tiga persoalan kritis. Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang pernah digagas belum berkelanjutan, sementara pabrik pakan ternak belum tersedia di wilayah Timor. Saat kemarau, ternak hanya mendapat nutrisi rendah dari rumput kering sehingga pertumbuhan terhambat. Upaya peternak seperti membuat sumur atau cekdam masih berskala kecil dan belum mampu mengatasi kekeringan secara fundamental. Melimpahnya biomassa musim hujan yang terbuang sia-sia menjadi paradoks yang harus diselesaikan melalui introduksi teknologi hay, silase, dan fermentasi pakan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












