Sistem penggembalaan bebas memungkinkan perkawinan tanpa kontrol antara individu-individu yang memiliki hubungan kekerabatan dekat, sehingga risiko inbreeding sangat tinggi. Inbreeding meningkatkan homosigositas yang memicu depresi silang dalam, seperti penurunan produktivitas, bobot lahir rendah, pertumbuhan lambat, dan kematian pedet. Data menunjukkan setiap kenaikan 10 persen koefisien inbreeding dapat menurunkan calf crop 5,9 persen dan bobot sapi 2,5–5 kg. Tanpa pencatatan silsilah dan pengaturan pejantan, degradasi genetik progresif akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Intervensi manajemen reproduksi menjadi kunci untuk memutus siklus perkawinan sedarah ini.
Manajemen reproduksi di tingkat peternak rakyat Timor masih sangat lemah, tercermin dari panjangnya jarak beranak (20–24 bulan) dan tingginya kawin berulang. Pengamatan birahi yang tidak akurat serta rendahnya kualitas pejantan alam memperburuk efisiensi reproduksi. Tanpa sistem pencatatan, peternak tidak memiliki informasi mengenai riwayat reproduksi setiap individu ternak. Penerapan intensifikasi kawin alam dengan pejantan terseleksi atau inseminasi buatan (IB) berbasis semen beku menjadi solusi yang harus didorong. Perbaikan ini hanya akan efektif jika diintegrasikan dengan manajemen nutrisi yang memadai agar fungsi reproduksi optimal.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












