MENGGUGAT PARADIGMA PETERNAKAN KONVENSIONAL DI PULAU TIMOR: URGENSI TRANSFORMASI MANAJEMEN DAN INOVASI SIRKULAR LIVESTOCK SEBAGAI MODEL PETERNAKAN BERKELANJUTAN DI LAHAN KERING

Avatar photo
Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260526 WA0159

 

Sistem penggembalaan bebas memungkinkan perkawinan tanpa kontrol antara individu-individu yang memiliki hubungan kekerabatan dekat, sehingga risiko inbreeding sangat tinggi. Inbreeding meningkatkan homosigositas yang memicu depresi silang dalam, seperti penurunan produktivitas, bobot lahir rendah, pertumbuhan lambat, dan kematian pedet. Data menunjukkan setiap kenaikan 10 persen koefisien inbreeding dapat menurunkan calf crop 5,9 persen dan bobot sapi 2,5–5 kg. Tanpa pencatatan silsilah dan pengaturan pejantan, degradasi genetik progresif akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Intervensi manajemen reproduksi menjadi kunci untuk memutus siklus perkawinan sedarah ini.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

Manajemen reproduksi di tingkat peternak rakyat Timor masih sangat lemah, tercermin dari panjangnya jarak beranak (20–24 bulan) dan tingginya kawin berulang. Pengamatan birahi yang tidak akurat serta rendahnya kualitas pejantan alam memperburuk efisiensi reproduksi. Tanpa sistem pencatatan, peternak tidak memiliki informasi mengenai riwayat reproduksi setiap individu ternak. Penerapan intensifikasi kawin alam dengan pejantan terseleksi atau inseminasi buatan (IB) berbasis semen beku menjadi solusi yang harus didorong. Perbaikan ini hanya akan efektif jika diintegrasikan dengan manajemen nutrisi yang memadai agar fungsi reproduksi optimal.