Dalam kegiatan tersebut, kelompok ibu-ibu pengrajin tenun ikat Desa Obaki turut memamerkan hasil karya mereka. Sedikitnya tiga lapak digunakan untuk menampilkan berbagai hasil tenunan dengan sejumlah motif.
Salah seorang pengrajin, Marince Talelu, dengan antusias menjelaskan satu per satu hasil tenunan yang dipamerkan.
Menurut Marince, kelompok tenun ikat di Desa Obaki telah terbentuk sejak lama. Puluhan sarung tenun ikat dengan berbagai motif telah dihasilkan, di antaranya motif Loka dan motif Sulam.
“Pak, ini motif Loka, motif asli Desa Obaki. Kami pertahankan motif ini turun-temurun dari nenek moyang sampai ke anak cucu sekarang,” ungkap Marince sembari menunjuk motif Loka pada salah satu sarung yang dipamerkan.
Ia menjelaskan, motif Loka memiliki bentuk yang menyerupai dua tangan manusia yang diangkat sejajar bahu, baik secara bersamaan maupun sendiri-sendiri, dengan kondisi tangan terkepal. Warna yang digunakan didominasi biru dan putih.
Bagi masyarakat pengrajin Obaki, motif tersebut bukan sekadar corak pada selembar kain. Motif Loka menjadi bagian dari identitas budaya yang ingin terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
