Dari sisi ekonomi, hasil tenun ikat Obaki sebenarnya memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Marince mengatakan, sarung berukuran besar untuk laki-laki maupun perempuan dewasa dapat dijual dengan harga berkisar Rp1 juta hingga Rp2,5 juta. Sementara ukuran standar untuk berbagai keperluan dibanderol sekitar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu.
Namun, persoalan utama yang dihadapi para pengrajin bukan hanya soal produksi, melainkan pemasaran.
Marince mengakui, kelompok mereka belum memiliki pasar yang jelas untuk menjual hasil tenunan.
“Sarung yang kami tenun kebanyakan kami gunakan untuk urusan keluarga yang meninggal. Kami tidak jual ke mana-mana karena kami tidak tahu harus jual di mana,” tandasnya.
Kondisi tersebut membuat sebagian besar hasil tenunan masih berputar di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar.
Padahal, menurut Marince, jika tersedia akses pasar yang lebih luas, kerajinan tenun ikat dapat menjadi sumber tambahan pendapatan bagi keluarga para pengrajin.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
