Penulis Opini
Teresia Afilan Nas,
Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris
NTT,Flobamora-News.Com. Ruteng – Manggarai Timur sering dikenang orang lewat jejak yang terasa berat: jalan yang berliku penuh lubang, jaringan yang sering hilang ditelan kabut, hingga sinar listrik yang belum menyapa setiap sudut kampung. Di peta pembangunan, wilayah ini sering tercatat sebagai daerah yang masih tertinggal. Namun, alam tidak pernah menulis kisahnya hanya dengan ukuran aspal dan menara pemancar. Di balik segala keterbatasan itu, tersimpan sebuah rahasia yang diam‑diam berdenyut: Rana Tonjong, danau yang alamnya bentuk menyerupai hati manusia.
Terletak di wilayah Pota, Kecamatan Sambi Rampas, hamparan air seluas 3,5 hektare ini menjadi bukti bahwa keindahan sejati sering kali memilih tempat yang sunyi untuk tumbuh. Namanya membawa napas bahasa leluhur: “Rana” berarti danau, “Tonjong” berarti bunga teratai. Dan di sini, makna itu mewujud sepenuhnya — permukaan danau seolah diselimuti karpet hijau luas yang dihiasi bunga‑bunga teratai raksasa bermekaran dengan anggun. Saat kabut pagi turun perlahan menyentuh puncak pepohonan, Rana Tonjong berubah menjadi lukisan hidup yang tenang, seolah alam sedang menarik napas panjang di tengah hiruk dunia.
Ada pesan tersembunyi dalam bentuknya yang menyerupai hati. Seolah alam berkata: meskipun sering dinilai dari luar sebagai daerah yang belum lengkap fasilitasnya, Manggarai Timur justru menyimpan “jantung” keindahan yang murni dan tulus. Tidak dibentuk tangan manusia, tidak dihias untuk pamer — tumbuh apa adanya, dikelilingi udara pegunungan yang sejuk dan kesunyian yang menenangkan jiwa.
Namun, keaslian yang terjaga bukan berarti harus selamanya tersembunyi. Keterbatasan jalan yang rusak, kurangnya penanda arah, serta minimnya perhatian menjadikan Rana Tonjong bagai nyanyian yang belum sempat didengar banyak orang. Padahal, di dalamnya tersimpan potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar pemandangan indah. Ia adalah jembatan yang bisa menghubungkan masyarakat setempat dengan peluang ekonomi, budaya, dan pengakuan — jika saja infrastruktur dan perencanaan pembangunan tidak melupakan sudut‑sudut rahasia seperti ini.
Di sinilah suara generasi muda menemukan tempatnya. Kita bukan sekadar penikmat pemandangan yang lewat, melainkan penjaga ingatan masa depan. Menjaga air tetap jernih, teratai tetap mekar, lingkungan tetap asri, sekaligus menyuarakan perlunya perhatian yang lebih adil dan nyata dari pengambil kebijakan — itulah bentuk cinta yang nyata terhadap tanah kelahiran.
Rana Tonjong mengajarkan satu kebenaran yang sering kita abaikan: kemajuan tidak harus selalu berarti kehilangan jati diri, dan daerah yang belum terjangkau fasilitas lengkap bukanlah daerah yang miskin. Justru di sanalah kekayaan alamnya masih utuh, menunggu disambut dengan pandangan yang luas dan tindakan yang bijak.
Danau berbentuk hati ini tidak menuntut dikunjungi semata — ia menuntut untuk dipahami, dihormati, dan dijaga. Sebab keindahan yang tersembunyi, jika dirawat dengan kasih, akan menjadi cahaya yang menerangi masa depan seluruh Manggarai Timur
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
