Potensi Ayam KUB Sebagai Terobosan Genetik Dalam Mendukung Ketehanan Pangan di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor

Avatar photo
Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260530 WA0000

Apabila dibandingkan dengan ayam kampung lokal NTT yang pertumbuhannya lambat, Ayam KUB menunjukkan keunggulan komparatif yang sangat signifikan dari segi efisiensi produksi. Data teknis menunjukkan bahwa ayam kampung biasa dengan pemeliharaan ekstensif hanya mampu memproduksi 47 butir telur per tahun dengan frekuensi bertelur hanya 3 kali setahun, serta tingkat mortalitas hingga 50-56 persen . Sebaliknya, ayam KUB dengan pemeliharaan intensif dapat mencapai produksi telur hingga 146 butir per tahun, frekuensi bertelur 7 kali setahun, dan mortalitas yang lebih rendah yaitu kurang dari 27 persen . Perbedaan produktivitas ini disebabkan oleh seleksi genetik yang menghilangkan gen pengeraman berlebihan pada ayam KUB, sehingga energi pakan lebih banyak dialokasikan untuk produksi telur dan pertumbuhan daging, bukan untuk mengeram.

Keberhasilan budidaya ayam KUB di Pulau Timor sangat tergantung pada penerapan manajemen pemeliharaan yang tepat, berbeda dengan sistem umbaran tradisional untuk ayam kampung biasa. Rekomendasi dari para ahli seperti Abdullah Udjianto menekankan pentingnya pembagian fase pemeliharaan yang meliputi fase starter (DOC-6 minggu), grower (6-12 minggu), developer (12-16 minggu), dan layer (18-68 minggu), dengan masing-masing fase memerlukan formulasi pakan yang berbeda . Pemberian pakan dengan kandungan protein dan kalsium yang lebih tinggi diperlukan terutama untuk ayam petelur guna mendukung pembentukan cangkang telur . Selain itu, perkandangan harus memenuhi standar biosekuriti dasar dengan kepadatan yang terkontrol, serta program vaksinasi yang teratur meskipun ayam KUB dikenal lebih tahan penyakit dibanding ayam ras pedaging .