Puisi | TTS dalam Ingatan Pengawas Pemilu (Puisi-puisi rindu seorang pengawas)

Reporter : Yor Tefa Editor: Redaksi
Screenshot 20250724 064801 WhatsApp 2

Aku duduk di sudut
dengan pena dan catatan,
sementara pesta demokrasi
berjalan dengan kaki yang pincang.

Dan aku rindu—
rindu untuk mencatat lagi,
bukan sekadar pelanggaran,
tapi juga harapan yang patah
karena sistem yang pura-pura jujur.

4. Penindakan

Ada saatnya kata tak cukup.
Lalu aku bicara dengan bukti,
berhadapan dengan wajah-wajah
yang dulu ramah,
kini kaku seperti tembok saksi.

Aku tak mencari musuh,
aku hanya menjaga jalan.
Dan setiap kali kutegakkan
apa yang benar,
aku kehilangan teman
tapi mendapatkan nurani.

Kini, malam terasa panjang.
Rindu untuk bersuara lagi
dalam sidang kecil di kantor kecamatan,
tempat di mana keadilan
selalu datang terlambat—tapi tetap datang.

5. Rindu yang Tak Ingin Padam

Aku bukan siapa-siapa,
hanya pria dengan kenangan
dan rindu yang tak selesai.

Soe bukan hanya kota,
ia adalah nadi,
tempat kutinggalkan
sebagian diriku
dalam setiap pemilu yang kukawal.

Aku ingin kembali.
Bukan untuk dikenang,
tapi untuk menjaga lagi
apa yang kini dibiarkan retak.



Exit mobile version