“Kami susah konsentrasi belajar, apalagi kalau sudah jam 10 pagi. Ruangan panas sekali, dinding tipis, suara dari kelas lain masuk semua. Kadang kami tidak dengar jelas guru menjelaskan,” keluh Carla.
Kondisi itu, menurut Winston, tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele atau dimaklumi karena sekolah baru. Lingkungan belajar yang tidak layak secara langsung memengaruhi konsentrasi, psikologi, dan mutu hasil belajar siswa.
“Kalau anak-anak sudah kesulitan berkonsentrasi karena kepanasan dan suara antarkelas saling mengganggu, kondisi itu harus menjadi perhatian serius. Mutu pendidikan juga ditentukan oleh kelayakan tempat anak-anak belajar,” tegas Wakil Ketua Komisi V yang membidangi pendidikan tersebut.
Winston memastikan aspirasi dari SMAN 2 Sulamu tidak akan berhenti sebagai catatan reses semata. Ia berkomitmen membawa kebutuhan tujuh ruang kelas baru SMAN 2 Sulamu ke dalam pembahasan resmi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dan dalam pembahasan APBD.
Menurut dia, penanganan persoalan tersebut harus dilakukan sistematis dan bertahap. Langkah pertama adalah pemeriksaan fisik kondisi bangunan eksisting, penelusuran kejelasan dokumen dan status tanah sekolah, serta penyusunan perencanaan pembangunan yang dapat diusulkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Pendidikan maupun pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












