Geoffrey C. Gunn dalam Historical Dictionary of East Timor mencatat salah satu peristiwa paling brutal dalam pemberontakan itu: pada Februari 1912, pemberontak dari satu bekas kerajaan Timor memasuki ibukota Dili. Mereka menjarah dan membakar pemukiman orang-orang Portugis serta menggorok para tentara. Balasannya, Portugal mengirimkan tentara dari Mozambik dan sebuah kapal perang dari Macau.
Menurut Constancio Pinto dan Matthew Jardine dalam East Timor’s Unfinished Struggle: Inside the East Timor Resistance, 3.424 orang Timor terbunuh dan 12.567 orang luka-luka dalam kemelut tersebut. Sementara di pihak Portugis ada 289 orang korban tewas dan 600 korban cedera.
Selama Perang Dunia Kedua, Timor Portugis “dijaga” oleh pasukan Australia dan Belanda. Jepang, lawan mereka, tiba di kawasan itu pada Februari 1942. Situasi itu kembali menyeret rakyat Timor Portugis ke dalam perang. Pada 19 Februari 1942, sebuah pertempuran meletus. Rakyat Timor membantu kubu Sekutu menghadang Jepang.
Akibatnya, sekalipun Sekutu telah mundur dari Timor Portugis, penduduk setempat harus terus berperang melawan Jepang. Sebagian besar kematian warga sipil disebabkan oleh pembalasan Jepang yang berlangsung sampai tahun 1945. Menurut situs pertahanan Australia, ada 40.000 sampai 70.000 orang Timor Portugis terbunuh dalam perang tersebut.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
