Ketika 19 Agustus 1990, mendarat di Bandara Internasional Vienna Austria, saya dijemput sosok sederhana, terkenal pintar di Ledalero dan disiplin dialah frater misionaris muda yang ada diantara kita saat ini yang mulia Bapa Uskup Budi Kleden.
Dalam perjalanan menuju St.Gabriel, sekitar 40 menit, salah satu nasihat yang masih saya ingat dan simpan adalah, “Datang kesini mewakili bukan saja SVD tapi Indonesia, belajar yang tekun, disiplin dan bergaul dengan semua orang, tidak dari Jerman atau Austria saja tapi teman-teman dari Eropa timur seperti Hungaria, Polandia.”
Tentu saja saya mengangguk setuju walaupun pandangan mata saya ke luar mobil menyaksikan kota Vienna menuju Moedling. Disana ada biara SVD dan kami selama 5 tahun, sampai dengan tahun 1995 bersama di Missionshaus St.Gabriel Moedling bei Wien. Banyak hal yang saya belajar dari YM Bapa Uskup, terutama kesederhanaan dan kedisiplinan. Jika ingin berhasil, peganglah dua kunci itu.
Setelah gempa bumi melanda Flores 1992, YM Bapa Uskup, saat itu masih sebagai frater misionaris SVD di Austria ini sempat mengunjungi Nangaroro dan bertemu keluarga di Aekana, sebelum ke Seminari St.Yoh.Berkhmans Mataloko bersama Pater Perfek kami di St. Gabriel, almarhum Pater Ruediger Brunner SVD.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












