Mereka adalah mahasiswa yang selama ini menggantungkan biaya hidup dan kuliah dari kiriman orang tua. Namun kini, kiriman itu tak kunjung tiba. Sang ayah dan ibu yang biasanya menjadi penopang, kini justru berjuang untuk bertahan hidup di pengungsian. Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tapi juga kehilangan sumber penghasilan karena lahan pertanian dan kebun mereka rusak tertimbun tanah longsor.
Saat rekan-rekannya sibuk memilih kemeja dan jas untuk wisuda, Marno justru sibuk menghitung rupiah di rekeningnya. Ia menguras hampir seluruh tabungan yang dikumpulkan susah payah selama menjadi mahasiswa uang yang seharusnya ia pakai untuk biaya persiapan wisuda.
“Apa artinya wisuda mewah jika ada saudara saya yang menangis kelaparan di kos-kosan?” tegasnya.
Dari tabungan itu, ia membeli karung-karung beras, mi instan, telur, dan kebutuhan dapur lainnya. Satu per satu, ia datangi teman-temannya yang berasal dari Kabupaten Sikka, Ende, dan Manggarai yang kini terdampak.
“Membantu bukan berarti saya kaya. Saya lahir dan tumbuh dalam kekurangan. Saya cukup tahu dan paham bagaimana rasanya sulit. Karena itulah, ketika melihat ada yang membutuhkan bantuan, bantulah semampu kita. Saya tidak mau orang lain merasakan derita yang dulu saya rasakan,” ujarnya dengan suara bergetar penuh ketegaran.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
