Ricky Ekaputra Foeh Dosen FISIP UNDANA
KUPANG, Flobamora-news
com – Memasuki bulan kedua tahun 2026, kita dihadapkan pada sebuah paradoks ekonomi yang menggelisahkan. Di satu sisi, laporan makroekonomi mungkin masih menunjukkan grafik pertumbuhan yang aman, namun jika kita menengok ke pasar tradisional, ke warung kopi, atau melihat saldo rekening masyarakat, ceritanya sungguh berbeda.
Pendapat saya sederhana namun cukup getir, yakni daya beli masyarakat Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang menyaksikan fenomena di mana fondasi ekonomi rumah tangga, khususnya kelas menengah, mulai retak secara perlahan.
Kelas Menengah yang Terabaikan
Selama bertahun-tahun, perhatian kita terlalu fokus pada dua kutub, yaitu kelompok masyarakat kaya yang asetnya terus tumbuh serta masyarakat miskin yang mendapat jaring pengaman berupa Bantuan Sosial (Bansos). Namun, ada jutaan rakyat di posisi tengah yang mencakup para pekerja kantoran, buruh pabrik, guru, hingga pegawai sipil yang kini justru paling terhimpit. Istilah “Makan Tabungan” bukan lagi sekadar guyonan di media sosial, melainkan sudah menjadi strategi bertahan hidup yang sangat nyata.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












