MENGGUGAT PARADIGMA PETERNAKAN KONVENSIONAL DI PULAU TIMOR: URGENSI TRANSFORMASI MANAJEMEN DAN INOVASI SIRKULAR LIVESTOCK SEBAGAI MODEL PETERNAKAN BERKELANJUTAN DI LAHAN KERING

Avatar photo
Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260526 WA0159

_Mengidentifikasi Akar Masalah Struktural Peternakan Timor_

*Oleh: Marno Neno Bunda (Mahasiswa Peternakan UNDANA)*

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

Populasi sapi potong di Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Timor, menunjukkan tren pertumbuhan positif dengan jumlah mencapai 622,28 ribu ekor pada tahun 2025 atau naik 6,9 persen dalam dua tahun terakhir. Namun, peningkatan kuantitatif ini belum disertai perbaikan manajemen pemeliharaan di tingkat desa yang masih tradisional. Praktik beternak sekadar melepas di padang alam tanpa pengelolaan kandang, pakan, reproduksi, dan kesehatan masih dominan. Akumulasi ternak tanpa tata kelola memadai justru menciptakan jebakan produktivitas dan mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Diperlukan pergeseran fundamental dari paradigma ekstensif menuju intensif-terpadu.

 

Pulau Timor memiliki iklim kering dengan musim kemarau panjang selama 8–9 bulan dan musim hujan pendek yang eratik. Kondisi ini membatasi ketersediaan hijauan pakan dan air secara drastis, sementara jenis tanah liat, kapur poreus, dan tanah berbatu memperparah daya dukung lingkungan. Pada puncak kemarau, ternak hanya mengonsumsi rumput kering, dedaunan kering, bahkan kulit kayu untuk bertahan hidup. Meskipun demikian, keterbatasan biofisik ini harus dipandang sebagai tantangan yang menuntut solusi adaptif, bukan hambatan mutlak. Pendekatan pengelolaan agroekosistem yang tepat, seperti padang rumput terkelola dan integrasi tanaman legum, terbukti mampu memperbaiki performa produksi sapi Bali di Timor.