Alat yang dimiliki oleh Bumdes Mako Karya tergolong canggih, karena menghasilkan beras kualitas terbaik. Itu karena proses olahannya melewati beberapa penyaringan berlapis. Alat tersebut dibeli menggunakan dana BUMDES dari penyertaan Dana Desa. Konon katanya, alat pengolahan milik Bumdes Maro Karya merupakan satu-satunya di Indonesia Timur.
Meski beras yang dihasilkan itu mayoritas berasal dari irigasi Mbay, akan tetapi Marsel dan kawan-kawan menamai produk mereka dengan mana Beras Nagekeo bukan beras Mbay. Dia membeberkan alasan dibalik brand Beras Nagekeo.
“Ini hanya soal nama, beras Mbay sudah ada sebelumnya, kemudian kami juga menamai beras Nagekeo ingin mengangkat martabat petani di seluruh Nagekeo, tidak ada maksud untuk mengabaikan bahwa produk beras ini juga berasal dari petani irigasi Mbay” ujar Marsel.
“Lebih dari itu, kita juga mau promosikan Nagekeo, dan terus terang ya .. beras Nagekeo ini sudah dipresentasikan Pak Penjabat Gubernur sampai ke Kementerian Desa” tambahnya lagi.
Kepala Desa Maropokot Petrus Kanisius Reta menyebut, pembentukan BUMDES Maro Karya sebenarnya sudah diwacanakan sejak lama, akan tetapi baru bisa terealisasi tahun 2023 seiring dengan diterbitkannya Peraturan Desa Maropokot nomor 3 tahun 2023 tentang Pembentukan Bumdes. “Dari awal memang banyak tantangan, berbicara soal BUMDES kami di desa Maropokot sejak awal saya menjabat dengan segala kompleksitas menjadi tantangan tersendiri, tapi menjadi seorang pemimpin harus punya mimpi” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












