BUMI MENGGIGIL, PERUT MENANGIS

file 00000000a97881fa82286256a521818f

NTT, Manggarai, Jumat 04 September 2026,

Bumi tak lagi diam

retakan membelah tanah

seperti luka yang tak kunjung sembuh.

Bangunan berguncang, dinding runtuh,

dan denting puing menelan harapan

yang baru saja dibangun dengan susah payah.

Langit kelabu menjadi saksi,

jerit dan tangis pecah di antara reruntuhan.

Kejamnya gempa:

memberi tanah untuk berpijak,

lalu mengguncangnya dalam sekejap mata.

 

Atap yang dahulu menaungi keluarga

kini menjadi tumpukan batu.

Dapur yang biasanya mengepulkan asap

kini sunyi dan dingin.

Piring-piring terdiam,

nasi tak lagi terhidang,

sementara perut terus memanggil

di tengah malam yang panjang.

 

Di sela-sela puing,

tangan-tangan kurus terulur—

bukan meminta kemewahan,

bukan mengejar pujian,

bukan pula mengharap belas kasihan berlebihan.

 

Mereka hanya membutuhkan

sekarung beras,

sedikit minyak,

gula dan garam,

air untuk diminum,

serta makanan sederhana

agar perut yang melilit

sejak kemarin dapat kembali terisi.

 

Gempa mungkin telah berhenti,

tetapi penderitaan belum berakhir.



Exit mobile version