– Memasak labu lilin dan ubi kayu yang disajikan dengan parutan kelapa.
– Membuat kue jagung dan laku banu.
– Mengolah makanan tradisional berupa u saku (olahan bose) dan u maula (jagung goreng yang ditumbuk).
– Menenun kain ikat.
– Menampilkan kegiatan tutas tobe.
– Membuat anyaman tikar, nyiru, dan bakul dari daun lontar, serta menjahit kain meja, sarung bantal, dan merajut tutup dulang.
Dalam pencerahan, Pendeta Yosni Diana Toh memberikan apresiasi atas kreativitas jemaat yang berhasil menampilkan kekayaan budaya yang mulai jarang dikenal oleh generasi muda masa kini.
Menurutnya, parade budaya tersebut memberikan gambaran nyata tentang kehidupan para leluhur Atoni Pah Meto yang hidup dalam kesederhanaan, kerja keras, dan semangat kebersamaan untuk mempertahankan kehidupan.
«”Dari kegiatan menenun, kita belajar tentang Tuhan yang menenun kita dalam kandungan ibu sebagaimana tertulis dalam Mazmur 139:13. Dari proses pengolahan pangan lokal yang membutuhkan kesabaran dan waktu, kita belajar hidup dengan rasa cukup dan bersyukur kepada Tuhan sebagai Pemelihara kehidupan,” ungkapnya.»
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












