“Dari kegiatan menenun, kita belajar tentang Tuhan yang menenun kita dalam kandungan ibu sebagaimana tertulis dalam Mazmur 139:13. Dari proses pengolahan pangan lokal yang membutuhkan kesabaran dan waktu, kita belajar hidup dengan rasa cukup dan bersyukur kepada Tuhan sebagai Pemelihara kehidupan,” ungkapnya.
Pendeta Yosni juga mengaku terharu karena kegiatan tersebut mampu melibatkan banyak warga jemaat yang sebelumnya jarang mengikuti ibadah gereja. Menurutnya, ketika jemaat diberikan ruang dan tanggung jawab dalam pelayanan, mereka merasa dihargai dan dipercaya sehingga terdorong untuk terlibat secara aktif.
“Kegiatan hari ini membuktikan bahwa dengan kreativitas yang baik dan tetap berlandaskan Alkitab, gereja dapat merangkul lebih banyak jiwa. Ada kolaborasi yang indah antara kaum bapak, kaum ibu, dan pemuda dalam mempersiapkan seluruh kegiatan ini. Inilah bentuk persekutuan yang saling melengkapi,” ujarnya.
Ke depan, Pendeta Yosni berharap kegiatan pelestarian budaya seperti ini dapat terus dilanjutkan dengan berbagai inovasi tanpa kehilangan nilai budaya maupun makna Alkitabiah yang terkandung di dalamnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












