Adapun kegiatan yang ditampilkan meliputi menumbuk jagung yang diolah menjadi bose, meniti jagung untuk dijadikan nasi titi, memasak kacang santan sebagai pelengkap nasi titi, mengolah labu lilin dan ubi kayu yang disajikan bersama parutan kelapa, membuat kue jagung dan laku banu, mengolah makanan tradisional berupa u saku dan u maula, menenun kain ikat, menampilkan kegiatan tutas tobe, serta membuat anyaman tikar, nyiru, dan bakul dari daun lontar. Selain itu, jemaat juga memperagakan kegiatan menjahit kain meja, sarung bantal, dan merajut tutup dulang.
Sementara itu, ibadah penutupan Bulan Budaya dan Bahasa dipimpin oleh Penatua Sefrit Betti dan idabat berjalan dengan aman tertib hingga selesai.
Sementara itu , Pendeta Yosni.ST,h memberikan apresiasi atas kreativitas jemaat yang berhasil menghadirkan kembali kekayaan budaya yang kini mulai jarang dikenal oleh generasi muda.
Menurutnya, parade budaya tersebut memberikan gambaran nyata tentang kehidupan para leluhur Atoni Pah Meto yang hidup dalam kesederhanaan, kerja keras, rasa syukur, dan semangat kebersamaan dalam mempertahankan kehidupan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












