Pertanyaan serupa juga harus diajukan terhadap narasi yang terlalu optimistis mengenai keberhasilan pemerintah. Klaim keberhasilan tidak otomatis benar hanya karena disampaikan berulang kali, sebagaimana klaim kegagalan tidak otomatis terbukti hanya karena mendapat dukungan luas di media sosial.
Dalam hal ini, literasi digital harus menjadi kemampuan untuk memeriksa, membandingkan, dan menilai informasi, bukan sekadar keterampilan menggunakan teknologi. Generasi muda perlu membedakan fakta dari opini, memahami konteks suatu peristiwa, serta memeriksa kredibilitas sumber sebelum menyebarluaskan informasi.
Sebab, ketika informasi yang belum teruji berubah menjadi keyakinan kolektif, ruang publik dapat dipenuhi reaksi yang tidak sebanding dengan persoalan sebenarnya. Akibatnya, perhatian masyarakat terserap oleh pertentangan narasi, sementara substansi masalah dan kemungkinan penyelesaiannya justru terabaikan.
Pemuda dan Tanggung Jawab Sejarah
Sejarah pergerakan pemuda Indonesia, termasuk perjuangan generasi 1966 yang disinggung dalam diskusi tersebut, memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa. Namun, mewarisi semangat perjuangan tidak berarti harus mengulang bentuk gerakan yang sama dalam setiap keadaan. Setiap generasi menghadapi tantangan berbeda dan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan konteks zamannya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












