Di Lereng Colol yang Berembun: Kepahitan Kopi dan Hukum Alam Semesta

Avatar photo
Reporter : Marfin Editor: Marfin
IMG 20260613 WA0017

Penulis Opini : Kornelia krisda Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Prodi pendidikan bahasa inggris

Ruteng ,Flobamora-News.Com -Sabtu 13/Juni 2026, Sering kali kita tumbuh dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang bernilai pasti terasa nyaman, manis, dan mudah diterima sejak pertemuan pertama. Budaya instan zaman ini makin memperkuat pandangan itu: makanan cepat saji, minuman berwarna‑warni dengan rasa gula yang meluap, hingga kesuksesan yang sering digambarkan seolah bisa diraih dalam semalam. Namun, di kaki pegunungan Manggarai Timur, ada secangkir Kopi Pahit Colol yang diam‑diam membantah semua anggapan tersebut. Lebih dari sekadar minuman, ia menjadi bukti nyata kebenaran‑kebenaran besar yang dikemukakan para ilmuwan dunia — tentang alam, proses, keterkaitan, dan jati diri.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

Charles Darwin, dalam pemikiran dasarnya tentang evolusi dan keberlangsungan hidup, menegaskan: “Yang bertahan bukanlah makhluk yang terkuat atau terpintar, melainkan yang paling mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungannya.” Prinsip ini terlihat jelas dari rasa khas Kopi Colol. Ia tumbuh di lereng pegunungan yang sejuk, sering diselimuti kabut tebal, menghadapi perbedaan suhu yang tajam antara siang dan malam, serta bergantung sepenuhnya pada irama hujan dan matahari alam setempat.