Maumere, Flobamora-news.com – Di tengah keheningan malam, enam pemuda yang tergabung sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Sikka berdiri berjejer di depan Kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sikka, Rabu (4/2/2026) malam.
Dengan lilin menyala di hadapan mereka, keenamnya memilih hadir tidak sebagai kerumunan, melainkan sebagai sikap. Sikap untuk tidak diam. Sikap untuk tidak tunduk. Sikap untuk tidak berlindung di balik rasa aman dan nyaman.
Aksi bakar lilin dan doa bersama itu digelar sebagai bentuk bela sungkawa mendalam atas meninggalnya YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar asal Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepergian seorang anak di usia yang sangat belia tersebut mengguncang nurani publik, sekaligus memantik pertanyaan-pertanyaan serius tentang kepekaan sistem pendidikan dan lingkungan sosial terhadap beban yang dipikul anak-anak.
Enam kader IMM Sikka itu datang dengan cara damai dan tertib. Tidak ada teriakan, tidak ada spanduk besar, tidak pula pengeras suara. Hanya lilin, doa, dan keheningan yang sengaja dibiarkan berbicara. Bagi mereka, keheningan itu justru menjadi bentuk kritik paling jujur: kritik terhadap sistem yang kerap abai, dan terhadap budaya diam yang terlalu sering dipilih demi rasa aman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












