Penempatan tuntutan di kantor dinas tersebut ditegaskan bukan sebagai ancaman, melainkan pengingat moral dan panggilan nurani. Keenam kader IMM Sikka menyatakan bahwa apabila tuntutan belum memperoleh perhatian dan tindak lanjut sebagaimana mestinya, mereka akan tetap
mengambil peran sebagai pengawas publik melalui cara-cara damai, rasional, dan konstitusional.
Aksi ini sekaligus menjadi penegasan garis sikap politik gerakan enam kader IMM tersebut. Di tengah situasi ketika sebagian pihak memilih aman, menghindari risiko, dan menunggu situasi reda, mereka justru memilih hadir di ruang publik dengan sikap yang jelas. Bagi mereka, keberpihakan tidak
boleh ditunda, dan empati tidak boleh dinegosiasikan.
“Kami sadar, sikap ini mungkin tidak populer. Tapi gerakan mahasiswa dan kader seharusnya tidak hidup dari popularitas, melainkan dari keberanian menyuarakan kebenaran,” ujar salah satu kader lainnya.
Doa bersama yang digelar di penghujung aksi menjadi penutup yang hening. Keenam kader berdiri dengan kepala tertunduk, mendoakan almarhum YBR serta keluarga yang ditinggalkan. Mereka juga menyelipkan doa agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi, dan agar seluruh pemangku kepentingan diberi keberanian untuk berbenah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












