Opini  

Ilusi Angka dan Realitas Dompet: Menyelamatkan Daya Beli yang Semakin Rapuh

Avatar photo
Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20260212 WA0201

Ricky Ekaputra Foeh Dosen FISIP UNDANA

KUPANG, Flobamora-news

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

com – Memasuki bulan kedua tahun 2026, kita dihadapkan pada sebuah paradoks ekonomi yang menggelisahkan. Di satu sisi, laporan makroekonomi mungkin masih menunjukkan grafik pertumbuhan yang aman, namun jika kita menengok ke pasar tradisional, ke warung kopi, atau melihat saldo rekening masyarakat, ceritanya sungguh berbeda.

Pendapat saya sederhana namun cukup getir, yakni daya beli masyarakat Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang menyaksikan fenomena di mana fondasi ekonomi rumah tangga, khususnya kelas menengah, mulai retak secara perlahan.

Kelas Menengah yang Terabaikan

Selama bertahun-tahun, perhatian kita terlalu fokus pada dua kutub, yaitu kelompok masyarakat kaya yang asetnya terus tumbuh serta masyarakat miskin yang mendapat jaring pengaman berupa Bantuan Sosial (Bansos). Namun, ada jutaan rakyat di posisi tengah yang mencakup para pekerja kantoran, buruh pabrik, guru, hingga pegawai sipil yang kini justru paling terhimpit. Istilah “Makan Tabungan” bukan lagi sekadar guyonan di media sosial, melainkan sudah menjadi strategi bertahan hidup yang sangat nyata.