Tanpa lonjakan kualitas manusia, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban. Tenaga kerja melimpah, tetapi produktivitas rendah. Upah tertekan, ketimpangan melebar, dan ketegangan sosial meningkat. Negara-negara yang berhasil keluar dari Middle Income Trap memahami bahwa pendidikan adalah investasi strategis jangka panjang. Korea Selatan membangun fondasi pendidikan sains dan teknologi jauh sebelum menjadi negara maju. Indonesia hingga kini masih lebih sibuk memperluas akses daripada memastikan mutu.
Masalah serupa terlihat di pendidikan tinggi. Jumlah perguruan tinggi dan lulusan sarjana terus meningkat, tetapi peningkatan ini tidak diikuti lonjakan inovasi. Belanja riset Indonesia hanya sekitar 0,3–0,4 persen PDB, jauh tertinggal dari negara-negara Asia Timur yang mengalokasikan 2 hingga 4 persen.
Tanpa riset, inovasi sulit lahir. Tanpa inovasi, lompatan produktivitas hampir mustahil terjadi. Universitas lebih banyak menghasilkan pencari kerja daripada pencipta teknologi. Publikasi ilmiah meningkat, tetapi jarang terhubung dengan kebutuhan industri. Kampus dan pabrik hidup di dua dunia yang terpisah. Dalam ekonomi berbasis pengetahuan, kondisi ini merupakan kelemahan struktural yang serius.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
