Sejarah global menunjukkan betapa serius persoalan ini. Dari lebih dari 100 negara berpendapatan menengah sejak 1960-an, hanya sekitar 13 yang berhasil naik menjadi negara berpendapatan tinggi. Sisanya terjebak selama puluhan tahun. Amerika Latin menjadi contoh paling gamblang. Ekonominya tumbuh, tetapi tidak pernah benar-benar maju. Indonesia hari ini menunjukkan terlalu banyak kemiripan dengan kisah tersebut, sementara keberanian untuk mengakuinya secara terbuka masih terbatas.
Salah satu ilusi terbesar yang mengaburkan masalah ini adalah fetisisme terhadap angka pertumbuhan 5 persen. Pertumbuhan tersebut sering diperlakukan sebagai prestasi, padahal dalam konteks negara berpendapatan menengah, angka ini lebih menyerupai ambang minimum untuk bertahan hidup, bukan tiket menuju negara maju.
Yang jauh lebih penting dari pertumbuhan adalah struktur di baliknya. Lebih dari separuh PDB Indonesia masih ditopang konsumsi rumah tangga. Ekspor didominasi komoditas primer. Sementara itu, industri manufaktur yang secara historis menjadi mesin utama kenaikan produktivitas dan upah justru kehilangan peran strategisnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
