Pengkritikan juga ditujukan pada pembatasan akses terhadap dapur MBG. Alfred menilai bahwa dapur pengolahan makanan untuk anak-anak seharusnya terbuka terhadap pengawasan publik. “Kami menduga ada yang disembunyikan, karena media dan publik dibatasi masuk. Padahal ini produksi makanan, bukan hal yang harus dirahasiakan,” katanya.
Ia juga mempertanyakan standar kebersihan, pengelolaan limbah, penggunaan peralatan, serta pemeriksaan kesehatan rutin bagi tenaga kerja dapur, mengingat Araksi belum mendapatkan data lengkap terkait uji kesehatan karyawan.
Alfred mengungkapkan kekecewaannya saat tim Araksi melakukan investigasi ke sekretariat dan dapur pengelola MBG di TTS. Menurutnya, tim pengelola bersikap sangat tertutup dan melarang pihak luar untuk melihat proses pengolahan makanan. “Kami dilarang masuk ke dapur dengan alasan yang tidak mendasar. Bahkan, untuk melihat proses memasak saja, kami diminta bersurat ke Denpasar untuk meminta izin. Situasi ini menimbulkan kecurigaan besar, apakah program ini benar-benar bertujuan memperbaiki gizi atau justru membahayakan kesehatan generasi emas kita?” tegasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
