Ketua Araksi NTT Kritik Program MBG di TTS, Realisasi Rendah, Transparansi Kurang, dan Pasokan Lokal Tidak Mampu

Avatar photo
Reporter : Marfin H Editor: Redaksi
IMG20260224163613

Pengkritikan juga ditujukan pada pembatasan akses terhadap dapur MBG. Alfred menilai bahwa dapur pengolahan makanan untuk anak-anak seharusnya terbuka terhadap pengawasan publik. “Kami menduga ada yang disembunyikan, karena media dan publik dibatasi masuk. Padahal ini produksi makanan, bukan hal yang harus dirahasiakan,” katanya.

Ia juga mempertanyakan standar kebersihan, pengelolaan limbah, penggunaan peralatan, serta pemeriksaan kesehatan rutin bagi tenaga kerja dapur, mengingat Araksi belum mendapatkan data lengkap terkait uji kesehatan karyawan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Alfred mengungkapkan kekecewaannya saat tim Araksi melakukan investigasi ke sekretariat dan dapur pengelola MBG di TTS. Menurutnya, tim pengelola bersikap sangat tertutup dan melarang pihak luar untuk melihat proses pengolahan makanan. “Kami dilarang masuk ke dapur dengan alasan yang tidak mendasar. Bahkan, untuk melihat proses memasak saja, kami diminta bersurat ke Denpasar untuk meminta izin. Situasi ini menimbulkan kecurigaan besar, apakah program ini benar-benar bertujuan memperbaiki gizi atau justru membahayakan kesehatan generasi emas kita?” tegasnya.