Selain infrastruktur yang belum terealisasi secara optimal, Araksi menilai TTS belum siap dari sisi ketersediaan bahan pangan. Berdasarkan hasil pemantauan, sebagian besar kebutuhan seperti buah, telur, ayam, dan komoditas lain masih didatangkan dari luar daerah. “Di TTS, yang relatif tersedia hanya pepaya, itu pun terbatas. Untuk kebutuhan harian ribuan porsi, pasokan lokal belum mampu mencukupi,” ujar Alfred.
Ia menambahkan bahwa perputaran anggaran ratusan miliar rupiah dari APBN juga belum berdampak signifikan terhadap penguatan sektor pertanian dan ekonomi lokal.
Araksi juga menyoroti dugaan ketidaksesuaian antara petunjuk teknis (juknis) dengan pelaksanaan di lapangan, terutama terkait menu dan harga bahan pangan. Dalam juknis disebutkan bahwa menu buah dalam satu dapur setiap hari harus seragam, namun di lapangan ditemukan satu dapur menyajikan beberapa jenis buah sekaligus. “Kalau dalam juknis harus satu jenis buah, kenapa di lapangan bisa tiga macam? Ini berpotensi menimbulkan selisih harga,” jelas Alfred.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










