” Jika saya yang cari daun maka mereka yang Koru itu akan dapat dua ribu per kg. Terus yang datang bawa sendiri akan dihargai dengan tiga ribu rupiah. Kan harganya lima ribu. Ada yang harganya tiga ribu dan dua ribu. Yang sisa ini itu Kaka, setiap hari itu saya gunakan kendaraan dan ada anak buah lagi. Setiap Minggu saya sewa setiap motor itu 150 ribu rupiah. Jadi ada e motor jadi total 450 ribu. Dana itu ambil dari mana? Dana itu ambil dari yang sisa dua ribu dan tiga ribu. Dari lokasi kelompok saya pakai ojek lagi ke lampu merah Bimoku. Dari Bimoku saya pakai lagi kendaraan untuk muat kelor bawa ke Camplong. Tidak hanya berhenti disitu saja. Yang pegang uang kelor kan ibu. Kalau masih ada sisa, kami dua Pi beli alat tulis dan buku untuk dibagikan kepada anak anak sekolah. Setiap anak dapat buku satu pak dan bolpoint,” ujarnya.
Antonius mengatakan ia bersama istri tidak mengambil keuntungan dari anggota kelompoknya. Ia hanya mendapat tunjangan operasional dari kantor sebanyak Rp, 1.000.000,. Ia mengatakan hal itu bisa langsung di konfrontir dengan anggota kelompoknya kapan saja.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












