Opini  

Kopi Ber-Sensasi Rasa Literasi

20190630 100831

Suatu saat di Borong-Manggarai Timur, seorang pengawas “mengeluh” perihal efek penutupan UPT pendidikan. Bapak Gubernur menjawab tegas. Penghapusan UPT pendidikan adalah cara memotong jalur birokrasi yang panjang. Selain itu, para Bupati memiliki andil untuk memantau sekolah SMA/SMK. “Kita urus ini pendidikan sama-sama.

Para Bupti berhak untuk memantau proses pendidikan SMA/SMK di daerah. Kalau ada kepala sekolah yang tidak becus, bantu infokan supaya supaya saya berin tindakan tegas. Para guru bisa mengusulkan kenaikan pangkat misalnya, cukup pakai WA saja. Berkasnya dikirim via online. Kalau ada pegawai dinas di provinsi yang tidak menanggapi (merespon) akan saya copot”, ujar Gubernur NTT saat itu.

Fidelis benar Kopi Bajawa itu beda. Pada tegukkan terakhir, terasa sepat dan bersensasi. Beda dengan kopinya orang Manggarai.
Kopinya orang Manggarai memang terasa pahit (kopi pa’it) tetapi pada tegukkan terakhirnya, terasa manis. Jika buku antologi artikel ilmiah guru di Kabupaten Nagekeo, bakal diterbitkan menjelang ferstival literasi, buku guru Manggarai Timur justru sudah terbit dan siap untuk penerbitan buku guru edisi keduanya. Kami ngakak bersama saat Fidelis ingatkan lagi. “Ini kopi Bajawa, bukan kopinya orang Manggarai”.



Exit mobile version