Merasa dipermainkan, para pekerja kemudian melaporkan masalah ini ke berbagai pihak, mulai dari Polres TTS, Kejaksaan Soe, hingga Bupati, DPRD, dan Dinas PMD. Mereka berharap agar pihak-pihak terkait dapat turun tangan dan membantu menyelesaikan masalah ini. Namun, harapan mereka kembali pupus ketika laporan mereka tak kunjung mendapatkan tanggapan yang berarti.
“Kami sudah mencoba segala cara, tapi hasilnya nihil. Kami merasa seperti diabaikan dan tidak dianggap sebagai warga negara yang memiliki hak yang sama,” keluh Yuliana dengan nada putus asa.
Yusuf Bianome, salah satu pekerja laki-laki, juga mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam. Ia merasa bahwa pemerintah desa telah mengkhianati kepercayaan mereka. “Kami sudah memberikan yang terbaik untuk desa ini. Tapi, kenapa hak kami justru diabaikan? Apakah ini yang namanya keadilan?” tanyanya dengan nada sinis.
Di tengah ketidakpastian dan kekecewaan yang mendalam, para pekerja hanya bisa berharap kepada Bupati dan Wakil Bupati TTS yang baru. Mereka berharap agar pemimpin baru ini dapat membuka mata dan hati mereka untuk membantu menyelesaikan masalah yang telah lama membelit mereka. “Kami tidak butuh janji-janji manis. Kami hanya butuh hak kami dibayarkan. Itu saja yang kami minta,” pungkas Yuliana dengan nada penuh harap.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












