MENGGUGAT PARADIGMA PETERNAKAN KONVENSIONAL DI PULAU TIMOR: URGENSI TRANSFORMASI MANAJEMEN DAN INOVASI SIRKULAR LIVESTOCK SEBAGAI MODEL PETERNAKAN BERKELANJUTAN DI LAHAN KERING

Avatar photo
Reporter : Okber Bait Editor: Okber Bait
IMG 20260526 WA0159

 

Peneliti BRIN, Prof. Jacob Nulik, mengembangkan Lamtoro Tarramba sebagai legum tahan kering yang mampu menyediakan hijauan sepanjang tahun dan menekan kematian pedet di bawah 4 persen. Produktivitas Lamtoro Tarramba mencapai 11–15 ton bahan kering per hektare per tahun dengan pemangkasan berkala, menjamin pasokan protein bagi ternak. Tanaman legum lain seperti Indigofera zollingeriana dan Clitoria ternatea juga dapat ditanam bergilir dengan jagung untuk memperbaiki kesuburan tanah. Teknologi pengawetan seperti hay, silase, dan biskuit pakan berprotein tinggi menjadi jembatan antara surplus musim hujan dan defisit musim kemarau. Keberhasilan inovasi ini memerlukan integrasi dengan kebiasaan lokal serta dukungan kelembagaan yang kuat.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

Infrastruktur kesehatan hewan yang minim menjadi salah satu permasalahan utama yang disampaikan dalam rapat Komisi II DPRD NTT, terutama setelah wabah African Swine Fever (ASF) meluluhlantakkan populasi ternak babi. Dalam sistem tanpa kandang, ternak sangat terpapar patogen lingkungan dan vektor penyakit, sementara akses terhadap layanan kesehatan hewan sangat terbatas. Rendahnya pengetahuan peternak tentang biosekuriti memperparah penyebaran parasit dan penyakit metabolik yang sebenarnya dapat dicegah. Penguatan manajemen kesehatan harus mencakup vaksinasi, sanitasi kandang, sistem surveilans penyakit, dan pendampingan teknis berkelanjutan. Tanpa fondasi kesehatan yang kokoh, segala upaya peningkatan produktivitas ternak akan sia-sia.