Opini  

OVOP di NTT: Antara Semangat Lokal dan Tantangan Eksekusi 

Avatar photo
Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20250916 WA0015

Oleh: Ricky Ekaputra Foeh, MM
Dosen FISIP Universitas Nusa Cendana

KUPANG, Flobmaora-News.com – Program One Village One Product (OVOP) di Nusa Tenggara Timur sejatinya bukan sekadar proyek ekonomi kreatif. Ia adalah strategi pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal—sebuah gerakan untuk mengubah desa menjadi pusat produksi yang berdaya saing.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Namun, setelah beberapa tahun berjalan, pertanyaan penting muncul: apakah OVOP di NTT benar-benar sukses, atau baru sebatas seremonial?

Faktanya, inisiatif pemerintah provinsi patut diapresiasi. Peluncuran berbagai produk unggulan daerah, kolaborasi dengan BPOM untuk izin edar, dan promosi melalui pameran menunjukkan adanya niat politik yang kuat. Tetapi keberhasilan administratif tidak otomatis berarti keberhasilan substantif.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa OVOP di NTT masih menghadapi lima persoalan klasik:

1. Kualitas produk yang belum konsisten,

2. Ketergantungan pada bahan baku musiman,

3. Akses pasar yang terbatas,

4. Pembiayaan UMKM yang belum inklusif, dan