Oleh: Ricky Ekaputra Foeh, MM
Dosen FISIP Universitas Nusa Cendana
KUPANG, Flobmaora-News.com – Program One Village One Product (OVOP) di Nusa Tenggara Timur sejatinya bukan sekadar proyek ekonomi kreatif. Ia adalah strategi pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal—sebuah gerakan untuk mengubah desa menjadi pusat produksi yang berdaya saing.
Namun, setelah beberapa tahun berjalan, pertanyaan penting muncul: apakah OVOP di NTT benar-benar sukses, atau baru sebatas seremonial?
Faktanya, inisiatif pemerintah provinsi patut diapresiasi. Peluncuran berbagai produk unggulan daerah, kolaborasi dengan BPOM untuk izin edar, dan promosi melalui pameran menunjukkan adanya niat politik yang kuat. Tetapi keberhasilan administratif tidak otomatis berarti keberhasilan substantif.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa OVOP di NTT masih menghadapi lima persoalan klasik:
1. Kualitas produk yang belum konsisten,
2. Ketergantungan pada bahan baku musiman,
3. Akses pasar yang terbatas,
4. Pembiayaan UMKM yang belum inklusif, dan
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












