Ekonomi yang sehat tidak diukur semata dari pertumbuhan angka PDB, tetapi dari kemampuan rakyat memenuhi kebutuhan dasarnya secara berkelanjutan. Bila daya beli melemah, maka seluruh pencapaian makro menjadi semu, ibarat tubuh kekar dengan nadi yang lemah.
Oleh karena itu, strategi pompa daya beli sejatinya bukan hanya kebijakan jangka pendek, melainkan agenda ekonomi jangka panjang berbasis keadilan sosial. Tujuannya bukan sekadar menambah uang di tangan rakyat, tetapi memperkuat posisi mereka dalam struktur ekonomi. Ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
Menutup Celah Kebijakan
Untuk memastikan keberlanjutan strategi ini, pemerintah perlu menutup tiga celah utama. Pertama, kelemahan koordinasi lintas lembaga, di mana kebijakan fiskal, moneter, dan sosial masih berjalan sendiri-sendiri. Kedua, kurangnya instrumen evaluasi berbasis data mikro, sehingga sulit mengukur dampak kebijakan secara nyata. Ketiga, minimnya peran daerah, padahal daya beli paling nyata berputar di pasar-pasar lokal.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












