Menurut Albertus, potensi kopi di desa ini saja sangat besar karena masyarakat di Desa Persiapan Mukofoka memiliki lahan rata-rata 45-50 are per kepala keluarga. Namun potensi kopi yang besar ini belum bisa digarap maksimal karena kurangnya “campur tangan” pemerintah seperti kurangnya sarana jalan menuju lokasi kebun kopi.
“Kami ingin bagaimana agar harga kopi kami supaya ada peningkatan, saat ini boleh dikatakan harga kopi kami diatur orang, bukan kami yang atur, itu kendala, kami minta bantuan pemerintah pusat agar perhatikan kami seperti daerah lainnya seperti di Jember (Jawa Timur), Sumatera dan lainnya. Saat ini kopi datangnya dari Bajawa tapi labelnya dari Manggarai atau Flores, ada kopi merk terkenal, itu kopi kami punya, itu antara lain kelemahan kami di sini,”imbuh Albert.
Potensi besar kopi dari wilayah Bajawa ini diakui oleh mitra petani yang berasal dari luar Bajawa. Kualitas kopi asal Bajawa ini diakui tidak kalah dengan kualitas kopi lainnya di Indonesia seperti kopi dari Aceh, Toraja, dan kopi dari daeerah lainnya di Indonesia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












