Problematika Inbreeding pada Ternak Sapi di Pulau Timor dan Strategi Pemuliaan Berbasis Inseminasi Buatan

Reporter : MB Editor: Okber Bait
IMG 20260527 WA0011

Depresi inbreeding (inbreeding depression) pada sapi merupakan konsekuensi genetik dari peningkatan homozigositas lokus-lokus gen yang bersifat resesif merugikan, sehingga menurunkan nilai fenotipik sifat-sifat produktivitas ternak. Secara teoretis, koefisien inbreeding (F) mengukur probabilitas dua alel pada satu lokus berasal dari leluhur yang sama, dan setiap kenaikan satu persen nilai F berkorelasi negatif terhadap performa pertumbuhan, reproduksi, dan daya tahan tubuh sapi. Pada populasi sapi yang kecil dan tertutup seperti di Pulau Timor, laju peningkatan koefisien inbreeding per generasi bisa berlangsung lebih cepat karena terbatasnya jumlah pejantan efektif dalam kelompok penggembalaan. Akumulasi gen letal dan sub-letal yang semula tersembunyi dalam keadaan heterozigot menjadi terekspresi pada individu homozigot, menyebabkan abnormalitas kongenital, penurunan viabilitas embrio, dan peningkatan mortalitas pedet. Sebuah studi penting oleh Kaswati, Sumadi, dan Ngadiyono (2013) yang mengestimasi nilai heritabilitas berat lahir, berat sapih, dan berat satu tahun pada sapi Bali di BPTU Sapi Bali memberikan dasar kuantitatif untuk memahami kerentanan genetik populasi sapi Bali terhadap tekanan silang dalam. Mekanisme ini menjadi sangat relevan pada sapi Bali di Pulau Timor yang dipelihara secara ekstensif, di mana perkawinan pejantan dengan anak betinanya sendiri sulit dihindari dan langsung menghasilkan individu dengan homozigositas tinggi. Penelitian dasar genetika populasi menunjukkan bahwa depresi ini paling parah terjadi pada sifat dengan heritabilitas rendah seperti tingkat kelangsungan hidup pedet dan efisiensi reproduksi induk. Dengan demikian, pemahaman tentang mekanisme genetik ini menjadi landasan penting untuk merancang strategi pemuliaan sapi yang efektif di Pulau Timor.



Exit mobile version