Di tengah kesedihan itu, warga merasa bahwa untuk pertama kalinya setelah melewati hari-hari penuh ketakutan, ada orang yang datang bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi juga mau duduk bersama dan mendengarkan mereka.
YNS menilai, membantu korban bencana bukan hanya soal memberikan beras, makanan, obat-obatan, air, atau kebutuhan dasar lainnya.
Ada kebutuhan lain yang sering tidak terlihat, yakni kebutuhan untuk didengarkan.
Korban bencana membutuhkan seseorang yang mau mendengar ketakutan mereka, memahami kesedihan mereka, dan memberikan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian.
Karena itu, perjalanan tim YNS ke Nangadhero bukan sekadar membawa bantuan kemanusiaan. Kehadiran mereka menjadi sebuah pesan bahwa di tengah bencana dan penderitaan, masih ada tangan-tangan yang bersedia mengulurkan pertolongan.
Di bawah tenda-tenda darurat, dengan penerangan seadanya dan tanah yang menjadi tempat berpijak, puluhan keluarga Nangadhero kini mencoba bertahan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












