Tantangan Regenerasi Penenun
Dalam menjaga tongkat estafet menenun dari generasi tua ke generasi milenial tetap dilestarikan, Pemerintah Desa Gero Dhere membentuk komunitas penenun Milenial yang beranggotakan remaja 17 sampai 25 tahun. Mereka aktif menenun baik di rumah masing-masing maupun secara bersama-sama di salah satu rumah secara bergiliran.
“Anggota kelompok ini ada 15 orang anak perempuan, jadi mereka ini sebenarnya semua bisa tenun hanya dilakukan pendampingan lagi oleh yang lebih senior untuk proses pencelupan benang dan pengetahuan lain sehingga bisa menghasilkan tenunan yang lebih berkualitas” ungkap Kepala Desa Gero Dhere, Wilhelmus Wega.
Namun, keterbatasan modal usaha terkadang membuat aktivitas menenun kain milenial ini tidak berjalan secara konsisten. Selama ini kata Wilhelmus, selain dibekali ilmu dari instruktur yang lebih senior, mereka juga mendapatkan pendampingan dari Dekranasda Kabupaten Nagekeo. “Kerjasama dengan Dekranasda, karena selama ini Dekranasda membantu mereka kasi bon dulu benang, nanti setelah sarung laku baru bayar” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
