“Melalui koperasi kami mengembangkan skema melindungi masyarakat, kita menyalurkan permodalan mikro tanpa bunga, Kita membantu distribusi produk lewat kepastian membayar. Koperasi melakukan pembelian tunai, kita modalin kita beli cash, karena resiko yang dihadapi sangat tinggi dan bisa membuat mereka terjerumus ke dalam hutang dari rentenir” paparnya.
Sama halnya dengan tenun ikat di Nagekeo, tantangan terbesar adalah regenerasi penenun yang mana tampaknya terancam putus karena kehilangan minat generasi muda. Sebab, di era saat ini, generasi muda lebih banyak yang memilih jalan pintas untuk bisa berdaya secara ekonomi, seiring dengan perkembangan teknologi. (Sevrin)
Liputan ini merupakan fellowship CSR PT TBIG yang diselenggarakan oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
