Menenun merupakan aktifitas sehari perempuan Gero sejak jaman nenek moyang. Anak-anak perempuan di kampung itu sudah diajarkan Ibu mereka menenun sejak usia yang masih sangat muda. Di sana, menenun bukan hanya sekedar aktivitas sehari-hari demi membantu ekonomi keluarga akan tetapi menenun sekaligus menjaga budaya yang kian tergerus arus modernitas juga warisan budaya leluhur yang dijaga dari generasi ke generasi.
Maria Veronica Sa’u remaja perempuan Gero berusia 18 tahun mengaku sudah bisa menenun sejak kelas 3 Sekolah Dasar. Saat disambangi di kediamannya Siswi SMA Santo Isodorus Boawae ini tengah asyik menggulung benang pada sebuah alat sederhana berbentuk baling-baling untuk menenun. “Ini kalau bahasa daerah namanya Woe (gulung) benang, kemiri Mane (menyusun) setelah itu baru ikat untuk bentuk motif” jelas Veronica.
Putri bungsu dari enam bersaudara ini mengaku berencana ingin meneruskan tradisi menenun yang diwariskan leluhur. Meski punya niat ingin melanjutkan kuliah, akan tetapi akibat keterbatasan ekonomi, Verni begitu Ia akrab disapa harus mengurungkan niatnya. “Mau kuliah tapi kasian Mama sendirian, sudah tamat mau tinggal di rumah bantu Mama tenun saja” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
