Anggaran desa itu diserahkan kepada Forum anak desa untuk mengelolanya. Wah, ini sejarah. Kepala Desa mengakui bahwa ini pertama kali Forum anak desa melaksanakan kegiatan yang mereka rancang dan sekaligus anggaran itu mereka kelola sendiri. Tepuk hebat 3 kali untuk itu. Kemeriahan kegiatan di pimpin oleh anak-anak ini bersama pendamping. Lagi-lagi ini tentang dukungan banyak pihak terutama pemerintahan desa, Kami orang Rendu bilang “ma’e tuga solo, ngusa ne’e da ngo” (Jangan hanya omong, buat juga). Kata lainnya tu ‘tidak hanya sebatas kata-kata to’.
Semua tidak instan, tidak sekali jadi, tidak semudah kasi balik itu telapak tangan. Sebagai Lembaga anak, Yayasan Plan International Indonesia terus mendorong dan mengadvokasi pemerintah sebagai penanggung jawab dan pemangku kepentingan utama. Maka tidak ada yang mustahil kan, sebuah batu karang yang kokoh pun akan perlahan terkikis karena tetes demi tetes air hujan atau deburan ombak secara terus menerus. Masyarakat perlahan paham dan teredukasi karena kegiatan pendampingan dari rumah tangga sampai dusun, pemerintah mulai mengimplementasikan peran-perannya untuk mewujudkan desa layak anak dengan intervensi kegiatan-kegiatan forum anak desa, ada juga dukungan anggarannya. Sri dan anak-anak lainnya diberi ruang partisipatif, diberi kesempatan berkreasi dan berkegiatan dengan suka cita dan penuh kebanggaan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
