“Kami merasa dibohongi dan diperlakukan tidak adil. Kami sudah bekerja melebihi target yang seharusnya, tetapi upah yang tertera di dalam RAB tidak manusiawi dan tidak sebanding dengan keringat dan tenaga yang telah kami curahkan,” ujar Yuliana Boimau, seorang pekerja Desa Oemanan, dengan nada geram saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon seluler.
Yuliana mempertanyakan, jika memang RAB yang berlaku adalah seperti yang disebutkan, mengapa warga dipaksa untuk bekerja melebihi ketentuan tersebut? Ia menduga adanya praktik penyimpangan dan penyelewengan anggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu di pemerintahan desa.
Lebih lanjut, Yuliana Boimau juga mengeluhkan bahwa upah belum diterima hingga saat ini, sudah lima tahun lamanya. Mereka mengaku telah bekerja keras selama hampir satu bulan penuh, dengan kondisi kerja yang sangat memprihatinkan. Pekerjaan pengecoran dilakukan secara manual tanpa bantuan alat berat seperti molen, sehingga membutuhkan tenaga ekstra dan waktu yang lebih lama.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
