Opini  

Kemiskinan Ekstrem di NTT: Mengapa 19 Persen Sulit Diturunkan?

Avatar photo
Reporter : Nyong R Editor: Redaksi
IMG 20250916 WA0015

Oleh: Ricky Ekaputra Foeh, M.M., Dosen FISIP Undana

Angka kemiskinan ekstrem di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun ini masih berada di kisaran 19 persen. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional dan menempatkan NTT sebagai salah satu daerah dengan beban kemiskinan tertinggi di Indonesia. Pertanyaan yang muncul adalah: mengapa begitu banyak program, anggaran, dan intervensi tidak mampu menekan kemiskinan ekstrem secara signifikan?

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dari perspektif administrasi dan manajemen publik, setidaknya ada beberapa faktor utama yang bisa dijelaskan.

Pertama, perencanaan dan implementasi program belum adaptif.

Kita bisa melihat kasus proyek Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di Desa Persiapan Daefadin, Kabupaten Rote Ndao, yang gagal memberikan akses air bersih dan sanitasi layak. Program yang seharusnya menjawab kebutuhan dasar masyarakat justru mengecewakan karena perencanaan teknis tidak mempertimbangkan kondisi geografis dan sumber daya lokal. Akibatnya, masyarakat tetap hidup dalam kesulitan, sementara anggaran sudah terserap.