“Dampak longsor ini pertama kali dialami oleh 10 kepala keluarga (KK). Selanjutnya, pada 14 Maret, longsor kembali terjadi dan dialami warga RT 01, sebagian RT 02, seluruh RT 03, seluruh RT 04, sebagian RT 12, dan sebagian RT 13, dengan total 60 kepala keluarga terdampak”, ungkap Parco.
Hingga saat ini, jumlah warga terdampak telah mencapai 83 kepala keluarga. Sebelumnya 100 kepala keluarga (KK) telah mengungsi terlebih dahulu. Tanah longsor juga mengakibatkan akses jalan putus total.
Kepala desa juga menjelaskan bahwa sejumlah fasilitas umum terdampak mengalami kerusakan, termasuk kantor desa, aula, jaringan perpipaan air bersih, serta tiang dan kabel listrik. Selain itu sejumlah titik infrastruktur jalan putus total, serta sejumlah Iahan warga terancam lenyap akibat retakan tanah yang melewati lahan milik warga.
Menurutnya, salah satu penyebab bencana ini adalah buruknya sistem drainase di Kampung Sabu, khususnya di lingkungan SMA PGRI Soe.
“Masalah ini sudah berulang kali dibahas dalam Musrenbang setiap tahun, tetapi pemerintah tidak menindaklanjutinya dengan baik. Baru setelah kejadian ini, pemerintah mulai mengerjakan saluran air di bagian atas. Namun, kondisi air sudah mengalir di bawah tanah, sehingga dampaknya tetap terjadi,” ungkapnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












