Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten TTS, dr. Marthen Johanis Banunaek, mengatakan hingga saat ini pihaknya menerima laporan sebanyak 59 ekor sapi milik warga yang mati mendadak di dua desa tersebut.
“Dari hasil pemeriksaan awal di lapangan, kami tidak menemukan indikasi penyakit menular maupun keracunan. Dugaan sementara, kematian sapi disebabkan oleh cuaca yang sangat ekstrem, yakni hujan berkepanjangan yang disertai kabut tebal dan suhu dingin hingga mencapai 7 derajat Celcius. Sebagian besar ternak tidak mampu bertahan karena belum memiliki kandang yang memadai untuk melindungi dari cuaca ekstrem,” jelasnya.
Ia menambahkan, tim Dinas Peternakan telah mengambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab kematian ternak serta mengantisipasi kemungkinan adanya penyakit lain.
“Kami sudah turun langsung ke lokasi untuk mengambil sampel dan memastikan tidak ada penyakit berbahaya yang menyerang ternak. Selain itu, kami juga telah memberikan obat-obatan dan vitamin kepada sapi-sapi yang masih hidup agar daya tahan tubuhnya meningkat. Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten TTS untuk menyiapkan bantuan stimulan bagi warga yang terdampak musibah ini,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












