Seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya dugaan manipulasi data ini. “Benar, jumlah siswa di SD GMIT Kotolin tidak mencapai 40 orang. Sekolah ini bahkan hampir tutup,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa banyak orang tua yang telah memindahkan anak-anak mereka karena proses belajar mengajar yang dinilai tidak jelas.
Salah seorang orang tua siswa yang anaknya sudah tidak bersekolah di SD GMIT Kotolin merasa kecewa saat mengetahui bahwa nama anaknya masih terdaftar di Dapodik. “Banyak nama yang kami cek di data Dapodik, nama anak saya masih ada, padahal sudah tidak sekolah lagi di situ,” ungkapnya. Ia berharap pemerintah segera mengambil tindakan tegas terhadap praktik pembohongan data ini.
Orang tua siswa lainnya juga mengamini kejadian tersebut. Mereka mengungkapkan bahwa anak-anak mereka sudah merantau atau bahkan menikah, namun nama mereka masih tercatat sebagai siswa SD GMIT Kotolin. “Anak-anak kami banyak yang sudah pindah, tapi kenapa nama mereka masih terdaftar di SD GMIT Kotolin? Ada yang sudah SMA, SMP, bahkan ada yang sudah menikah, tapi nama masih terdaftar,” keluhnya. Mereka mendesak tim auditor untuk segera turun tangan dan mengecek kembali data yang ada di SD GMIT Kotolin.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












