Di Lereng Colol yang Berembun: Kepahitan Kopi dan Hukum Alam Semesta

Avatar photo
Reporter : Marfin Editor: Marfin
IMG 20260613 WA0017

 

Kepahitannya bukanlah kegagalan rasa, melainkan hasil adaptasi biologis yang terbentuk selama puluhan hingga ratusan tahun. Tanpa perlindungan buatan, tanpa pupuk kimia berlebih, pohon kopi di Colol membangun ketahanan alami yang tercatat dalam setiap butir bijinya. Bagi masyarakat setempat, ini menjadi pelajaran hidup: seperti tanaman kopi yang tumbuh kuat karena diuji alam, manusia di Manggarai pun membangun ketangguhan bukan dari kemudahan, melainkan dari kebiasaan menghadapi tantangan. Ungkapan “manga kopi manga doi” — ada kopi, berarti ada penghidupan — bukan sekadar peribahasa, melainkan bentuk kepercayaan bahwa hasil yang tahan lama lahir dari keterkaitan yang erat antara manusia dan hukum alam.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

 

Jika kita melihat lebih luas, kisah kopi ini juga sangat selaras dengan pemikiran Ludwig von Bertalanffy, ilmuwan yang mengembangkan Teori Sistem Umum. Intinya: tidak ada hal apa pun yang berdiri sendiri di dunia ini; setiap bagian saling memengaruhi, saling bergantung, dan membentuk satu kesatuan yang utuh.