Lebih jauh lagi, kisah ini bisa dikaitkan dengan pandangan ilmuwan sosial dan psikolog seperti Kurt Lewin, yang menyatakan bahwa perilaku manusia adalah hasil interaksi antara dirinya dan lingkungannya. Lingkungan pegunungan Manggarai yang keras, tanah yang tidak selalu mudah diolah, dan akses yang belum sepenuhnya mudah dijangkau, membentuk karakter masyarakatnya: tekun, berpegang pada tradisi, dan menjaga keaslian.
Di saat banyak produk lokal berubah rasa atau identitas hanya demi mengejar selera pasar yang seragam, Kopi Colol tetap memegang jati diri. Ini adalah bentuk ketahanan budaya yang juga sejalan dengan prinsip keanekaragaman hayati dan budaya yang kini diperjuangkan ilmuwan lingkungan dunia: keberagaman adalah kekayaan, bukan penghalang.
Secangkir Kopi Pahit Colol akhirnya mengajak kita menyatukan dua hal yang sering dianggap terpisah: sains dan perasaan, hukum alam dan nilai budaya. Dari Darwin kita belajar tentang adaptasi, dari von Bertalanffy tentang keterkaitan, dari Einstein tentang kejujuran dan kesederhanaan. Semuanya bertemu di cangkir kecil ini.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












