Momen paling menyentuh terjadi ketika nama-nama penulis terbaik diumumkan. Tiga peserta terpilih, dan dari mereka Samita keluar sebagai Duta Literasi Siswa. Keistimewaannya tidak berhenti di situ: dia juga menerima sertifikat sebagai penulis terbaik dan diangkat sebagai “Duta Literasi Siswa” di SD GMIT Soe II – jabatan yang menjadikannya contoh bagi teman-temannya dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis.
Ketika namanya dipanggil untuk naik ke panggung, mata gadis berusia 12 tahun itu langsung berkaca-kaca. Tak kuasa menahan emosi kebahagiaan, air mata kesuksesan menetes perlahan. Dalam wawancara sesudah acara, Samita menyampaikan tekadnya dengan suara lembut namun penuh semangat: “Saya pasti akan bekerja lebih keras, belajar lebih giat agar bisa tampil di ajang propinsi bahkan nasional, tidak hanya di kabupaten saja.” Kata-katanya yang sederhana mencerminkan semangat generasi muda yang tidak puas dengan pencapaian saat ini.
Anak yang suka berdiam diri dan patuh kepada orang tua serta guru itu mengungkapkan bahwa tulisan adalah cara dia berbagi cerita dan pemikiran. “Saya ingin menbagikan klorang tua (cerita lama atau budaya tradisional) melalui karya tulis saya,” katanya. Tema antologi yang berfokus pada antropologi (cerita tradisional, adat istiadat, dan kehidupan masyarakat TTS) menjadi kesempatan baginya untuk menjelajahi dan menyebarkan nilai-nilai budaya agar tidak terlupakan oleh generasi mendatang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












